Arya Wedakarna

Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III

Gusti Wedakarna Serahkan Tongkat Tri Ananta ke Sulinggih lan Kubayan Pasek Kayu Selem

Salah satu ciri bakti dari para pratisentana sebagai warih dari Ida Betara Lelangit adalah kesetiaan dalam menjalankan tradisi leluhur nenek moyang, dan beruntunglah umat Hindu di Bali karena sistem agama dan budayanya memberikan jalan untuk memuja para leluhur atau yang disebut dengan Kawitan.
Piodalan di Pura Dalem Benculuk Tegeh Kori

Salah satu ciri bakti dari para pratisentana sebagai warih dari Ida Betara Lelangit adalah kesetiaan dalam menjalankan tradisi leluhur nenek moyang, dan beruntunglah umat Hindu di Bali karena sistem agama dan budayanya memberikan jalan untuk memuja para leluhur atau yang disebut dengan Kawitan.

Selama seribu tahun sejak zaman Mpu Kuturan dan pasca 500 tahun sandyakalaning Majapahit, ternyata hanya Bali yang mana tradisi keleluhurannya dilaksanakan secara konsisten hingga kini dengan skala masif. Dan keberadaan pura – pura kawitan, pemerajan, dadia dan sanggah disetiap sudut di Bali adalah bukti jika Bali sangat menghormati leluhur dan masa lalu. Hal inilah yang ingin disampaikan oleh tokoh muda Hindu Bali yang juga seorang wakil rakyat Bali di DPD RI yakni Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III disela – sela upacara Karya ring Kawitan Pasek Kayu Selem di Songan Kintamani Bangli.

Dalam kesempatan tersebut, Gusti Arya Wedakarna diterima oleh Pandita Pinandita serta Jero Kubayan Desa Adat Songan serta prajuru adat.

“Sampai kapanpun, sebagai seorang Ksatria saya tidak akan pernah dipisahkan dengan Desa Adat Songan dipinggir danau batur ini. Selain diberikan kehormatan oleh warga Songan untuk membangun Patung Dewi Danu, sebagai warih Dalem Tegeh Kori tiang yakin ada sejarah hebat antara leluhur kami Raja Badung Pertama yakni I Gusti Tegeh Kori dengan Ibu Dewi Danu. Sehingga mewakili pribadi, keluarga besar Tegeh Kori dan juga sebagai wakil rakyat tiang haturkan terimakasih atas doa restu warga adat Songan atas perjuangan kami selama ini. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga salah satu anggota MPR RI Termuda ini.

Selain itu, iapun mengapreasiasi keberadaan semeton Pasek Kayu Selem yang sudah memelihara dengan baik pura kawitan sehingga bisa menjadi tertata seperti saat ini.

“Warga Kayu Selem adalah aset besar bagi Bali dan Indonesia. Sejarah mengajarkan bagaimana leluhur warga Kayu Selem begitu memberikan teladan terhadap Bali, Khususnya dizaman Bali Mula. Dan hebatnya lagi, dalam proses peralihan Hindu Bali Mula ke Hindu Majapahit semua berlangsung damai dan toleran. Tanpa peran dari Pasek Kayu Selem, apalagi sebagai penyangga kesucian Danu Batur, tidak akan mungkin Bali bisa seperti ini. Ini sebabnya tiang selalu mengusahakan tangkil saat Wali di Pura Kayu Selem. “ungkap Gusti Wedakarna yang saat itu juga memberikan Tongkat Tri Ananta Majapahit kepada Ida Sulinggih dan Jero Kubayan.

Sebagai informasi, pada hari ini Senin (19/4) juga dilaksanakan karya di Pura Dalem Benculuk Tegeh Kori yang terletak di Tonja Denpasar. Acara piodalan dilaksanakan selama 1 hari dan diorganisasi oleh Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori ( PANDBTK ). Pura Dalem Benculuk dikenal sejarahnya untuk penghormatan bagi Abhiseka Raja Badung Kapertama yakni I Gusti Tegeh Kori ( Dewa Anom Pemayun ) yang merupakan putra mahkota Raja Bali Sri Aji Kresna Kepakisan yang berstana di Samprangan.